Kekayaan Alam sulawesi Utara
1ia21
Muhammad iqbal
Provinsi ini memiliki lahan sawah
irigasi teknis seluas 25.740 ha, sementara sawah irigasi semi teknis 26.738 ha.
Itu semua belum termasuk lahan sawah irigasi non teknis seluas 4.662 ha. Lahan
sawah tadah hujan seluas 4.631 ha, areal sawah pasang surut seluas 634 ha,
sementara tahan palawija, hortikultura dan sayur-sayuran seluas 341.419 ha,
Sawah-sawah inilah yang pada 2006 menghasilkan 451.700 ton padi dan meningkat jadi
470.400 ton pada 2007 dengan luas panen yang juga bertambah menjadi 99.500 ha.
Dibanding dua tahun terakhir, produktivitas padi yang dicapai meningkat. Pada
2004, produksi padi di sana mencapai 407.358 ton.
Pertaniaan tanaman pangan di
Sulawesi Utara relatif baik, terbukti dari kemampuan provinsi ini untuk
memenuhi kebutuhan pasar lokal, regional (Maluku Utara, Kalimantan Timur dan
Papua) serta pasar internasional (Singapura, Malaysia, Belanda dan negara.
Eropa lainnya, AS, Cina, Korea, Jepang dan India).
Untuk memenuhi target Sulawesi
Utara sebagai sentral hortikultura, kini tengah dikembangkan produksi kentang,
wartel dan nanas yang memang menjadi komoditas unggulan daerah itu. Berbagai
usaha meningkatkan volume kentang telah dilakukan, misalnya dengan membangun
pusat pembibitan ddan pembenihan kentang. Pengembangan SDM petugas melalui
pelatihan, mengembangkan teknologi kultur jaringan, mengintroduksi benih baru
kentang dan memperbanyak benih G2-G3 dan seterusnya sampai menghasilkan benih
sebar. Proyek serupa ini juga telah berhasil dilakukan pada bibit anggrek,
pisang dan rambutan. Khusus untuk rambutan digunakan bantuan luar negeri dengan
Kecamatan Tenga dan Sinonsayang dijadikan pilot project.
Total produksi sayur-mayur
meningkat signifikan dari 91.048 ton pada 2000 menjadi 325.135 ton pada 2005,
namun produksi buah-buahan menurun dari 158.441 ton pada 2000 menjadi 129.662
ton pada 2005. Produksi kentang meningkat dari 38.884 ton pada 2000 menjadi
195.826 ton pada 2005, dibarengi produksi nanas yng juga meningkat dari 1.851
ton pada 2000 manjadi 2.813 ton pada 2005. produksi wartel dari tahun
sebelumnya menjadi 11.113 ton pada 2005.
Luas hutan di provinsi ini
mencapai 788.691,88 ha. Fungsi hutan dibagi menjadi hutan lindung seluas
175.958,33 ha, hutan produksi tetap seluas 67.423,55 ha, hutan produksi
terbatas seluas 219.908,86 ha, hutan produk konversi seluas 14.643,40 ha serta
hutan suaka alam seluas 310.759,74 ha. jenis kayu yang dihasilkannya bervariasi
dari kayu kelas satu sampai kelas empat, jenis kayu dimaksud adalah kayu besi,
meranti, dan kayu lokal lainnya. Disamping itu juga terdapat hasil hutan ikutan
yang mempunyai nilai ekonomi dan nilai rambah seperti rotan, damar, kayu manis,
ijuk, daun woka dan lainnya.
Sulawesi Utara juga merupakan
pusat pengembangan industri perikanan. sejak 2001, pemerintah setempat
melaksanakan apa yang disebut Gerakan Pengembangan Komoditas Unggulan Berbasis
Agri bisnis (Gerbang Kuba) meliputi industri ikan tuna, cakalang dan layang.
Hasil penangkapan ikan di taut merupakan produksi tertinggi di sektor
perikanan. Para nelayan kini juga tengah mengembangkan teknik-teknik baru dalam
budidaya perikanan laut, meliputi ikan untuk umpan, ikan kerapu, baronang,
rumput laut dan kerang mutiara. Untuk budidaya perikanan darat fokus diarahkan
untuk ikan mas dan nila.
Produksi perikanan tangkap (tuna,
cakalang, tongkol) pada 2006 sebanyak 137.000 ton. Produksi ini ditargetkan
meningkat menjadi 141.000 ton pada 2007 dari 1,4 juta ton quota tangkap yang di
toleransi. Potensi ikan tangkap di sana 1,8 juta ton. Hasil budidaya ikan dan
udang air tawar mencapai 14.400 ton dengan luas areal 981 ha pada 2006,
ditargetkan meningkat menjadi 16.600 ton dengan luas areal 1.130 ha pada 2007.
Pada 2006, produksi rumput laut mencapai 12.000 ton (basah) di atas areal tanam
seluas 600 ha dan ditargetkan meningkat menjadi 13.100 ton (basah) dengan luas
areal tanam 654 ha pada 2007. Potensi yang tersedia sebesar 5.600 ha.
Perkembangan ekspor komoditas
perikanan Sulawesi Utara didukung oleh perkembangan unit-unit pengelolahan
hasil perikanan. Sampai 2004, terdapat 40 unit perusahaan pengelolahan hasil
perikanan dengan 22 cold storage yang mereka miliki. Setiap cold storage
berkapasitas 10.630 ton. Kini terdapat 60 eksportir komoditas hasil perikanan di
provinsi itu, dengan negara tujuan ekspor antara lain Jepang, Korea, AS, Cina,
Spanyol, Australia, jerman, Inggris, Hongkong, Denmark, Afrika Selatan,
Irlandia, Belanda, Swiss, Slovenia, Belgia, Finlandia, Italia, Polandia,
Prancis, Yunani, Malta, Cyprus, Kanada, Thailand, Taiwan, Singapura, Afrika dan
Filipina. Mereka terbiasa pengekspor rumput laut segar, tuna, udang galah dan
kepiting bakau yang dibekukan, ikan kaleng, ikan asap.
Sumber : http://www.indonesia.go.id/en/regional-government/north-sulawesi-province/natural-resources

Tidak ada komentar:
Posting Komentar