Asal mula Kota Manado menurut legenda dulu berasal dari “Wanua Wenang”
sebutan penduduk asli Minahasa . Wanua Wenang telah ada sekitarabad XIII dan didirikan
oleh Ruru Ares yang bergelar Dotulolong Lasut yang saat itu menjabat sebagai
Kepala Walak Ares,dikenal sebagai Tokoh pendiri Wanua Wenang yang menetap
bersama keturunannya.
Versi lain mengatakan bahwa Kota Manado merupakan
pengembangan dari sebuah negeri yang bernama Pogidon. Kota Manado diperkirakan
telah dikenal sejak abad ke-16. Menurut sejarah, pada
abad itu jugalah Kota Manado telah didatangi oleh orang-orang dari luar negeri.
Nama "Manado" daratan mulai digunakan pada tahun 1623 menggantikan nama
"Pogidon" atau "Wenang". Kata Manado sendiri merupakan nama
pulau disebelah pulau Bunaken, kata ini berasal dari bahasa daerah Minahasa yaitu Mana
rou atau Mana dou yang dalam bahasa Indonesia berarti "di
jauh". Pada tahun itu juga, tanah Minahasa-Manado mulai dikenal dan
populer di antara orang-orang Eropa dengan hasil buminya. Hal tersebut
tercatat dalam dokumen-dokumen sejarah.
Keberadaan kota Manado dimulai dari adanya besluit Gubernur
Jenderal Hindia Belanda tanggal 1 Juli 1919. Dengan besluit itu, Gewest Manado
ditetapkan sebagai Staatsgemeente yang kemudian dilengkapi
dengan alat-alatnya antara lain Dewan gemeente atau Gemeente
Raad yang dikepalai oleh seorang Walikota (Burgemeester).
Pada tahun 1951, Gemeente Manado
menjadi Daerah Bagian Kota Manado dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223. Tanggal 17 April 1951, terbentuklah Dewan Perwakilan Periode
1951-1953 berdasarkan Keputusan Gubernur Sulawesi Nomor 14. Pada 1953 Daerah Bagian Kota Manado berubah
statusnya menjadi Daerah Kota Manado sesuai Peraturan Pemerintah Nomor
42/1953 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 15/1954. Tahun 1957, Manado menjadi Kotapraja sesuai
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957. Tahun 1959, Kotapraja Manado ditetapkan
sebagai Daerah Tingkat II sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959. Tahun 1965, Kotapraja Manado berubah status menjadi
Kotamadya Manado yang dipimpin oleh Walikotamadya Manado KDH Tingkat II Manado
sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 yang disempurnakan dengan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.
Hari jadi Kota Manado yang ditetapkan pada
tanggal 14 Juli 1623, merupakan momentum
yang mengemas tiga peristiwa bersejarah sekaligus yaitu tanggal 14 yang diambil
dari peristiwa heroik yaitu peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946, dimana putra daerah ini bangkit dan
menentang penjajahan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, kemudian bulan Juli
yang diambil dari unsur yuridis yaitu bulan Juli 1919, yaitu munculnya Besluit Gubernur
Jenderal tentang penetapan Gewest Manado sebagai Staatgemeente dikeluarkan
dan tahun 1623 yang diambil dari
unsur historis yaitu tahun dimana Kota Manado dikenal dan digunakan dalam
surat-surat resmi. Berdasarkan ketiga peristiwa penting tersebut, maka tanggal
14 Juli 1989, Kota Manado merayakan
HUT-nya yang ke-367. Sejak saat itu hingga sekarang tanggal tersebut terus dirayakan
oleh masyarakat dan pemerintah Kota Manado sebagai hari jadi Kota Manado.
Geografi
Foto Manado dari udara
Kota Manado terletak di ujung jazirah utara
pulau Sulawesi, pada posisi geografis 124°40' - 124°50' BT dan 1°30' - 1°40' LU. Iklim di
kota ini adalah iklim tropis dengan suhu rata-rata 24° - 27° C. Curah hujan
rata-rata 3.187 mm/tahun dengan iklim terkering di sekitar bulan Agustus dan
terbasah pada bulan Januari. Intensitas penyinaran matahari rata-rata 53% dan
kelembaban nisbi ±84 %.
Luas wilayah daratan adalah 15.726 hektar. Manado juga
merupakan kota pantai yang memiliki garis pantai sepanjang 18,7 kilometer. Kota
ini juga dikelilingi oleh perbukitan dan barisan pegunungan. Wilayah daratannya
didominasi oleh kawasan berbukit dengan sebagian dataran rendah di daerah pantai. Interval ketinggian dataran antara 0-40%
dengan puncak tertinggi di gunung Tumpa.
Wilayah perairan Kota Manado meliputi pulau Bunaken, pulau Siladen dan
pulau Manado Tua. Pulau Bunaken dan Siladen memiliki topografi yang
bergelombang dengan puncak setinggi 200 meter. Sedangkan pulau Manado Tua
adalah pulau gunung dengan ketinggian ± 750 meter.
Sementara itu perairan teluk Manado memiliki kedalaman
2-5 meter di pesisir pantai sampai 2.000 meter pada garis batas pertemuan
pesisir dasar lereng benua. Kedalaman ini menjadi semacam penghalang sehingga sampai saat ini
intensitas kerusakan Taman Nasional Bunaken relatif rendah.
Jarak dari Manado ke Tondano adalah 28 km, ke Bitung
45 km dan ke Amurang 58 km.
Batas Wilayah
Batas wilayah Kota Manado adalah sebagai berikut:
Pemerintahan
Berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) nomor 4
tanggal 27 September 2000 tentang perubahan
status desa menjadi kelurahan di kota Manado dan PERDA nomor 5 tanggal 27
September 2000 tentang pemekaran kecamatan dan kelurahan, wilayah kota Manado
yang semula terdiri atas 5 kecamatan dengan 68 kelurahan/desa dimekarkan menjadi
9 kecamatan dengan 87 kelurahan. Tabel di bawah ini adalah daftar kecamatan
beserta luas dan jumlah kelurahannya, yaitu:
No.
|
Kecamatan
|
Luas wilayah (hektar)
|
Jumlah kelurahan
|
1.
|
5.212,5
|
8
|
|
2.
|
1.640
|
9
|
|
3.
|
4.913,55
|
11
|
|
4.
|
144,8
|
7
|
|
5.
|
587,13
|
9
|
|
6.
|
1.588,4
|
12
|
|
7.
|
700,17
|
10
|
|
8.
|
659,95
|
9
|
|
9.
|
279,5
|
12
|
Penduduk
Suku Bangsa
Saat ini mayoritas penduduk kota Manado berasal
dari suku Minahasa, karena wilayah Manado merupakan berada di tanah/daerah Minahasa. Penduduk asli Manado
adalah sub suku Tombulu dilihat dari beberapa nama kelurahan di Manado yang
berasal dari bahasa Tombulu, misalnya: Wenang (Pohon Wenang/Mahawenang - bahan pembuat kolintang),
Tumumpa (turun), Mahakeret (Berteriak), Tikala Ares (Walak Ares Tombulu, dimana
kata 'ares' berarti dihukum), Ranotana (Air Tanah), Winangun (Dibangun),
Wawonasa (wawoinasa - di atas yang diasah), Pinaesaan (tempat persatuan),
Pakowa (Pohon Pakewa), Teling (Bulu/bambu untuk dibuat peralatan), Titiwungen
(yang digali), Tuminting (dari kata Ting-Ting: Lonceng, kata sisipan -um-
berarti menunjukkan kata kerja, jadi Tuminting: Membunyikan Lonceng), Pondol
(Ujung), Wanea (dari kata Wanua: artinya negeri), dll.; sedangkan daerah
Malalayang adalah suku Bantik, suku bangsa lainnya yang ada di Manado saat ini
yaitu suku Sangir, suku Gorontalo, suku Mongondow, suku Arab, suku Babontehu, suku Talaud, suku Tionghoa, suku Siau dan kaum Borgo. Karena banyaknya komunitas peranakan
arab, maka keberadaan Kampung Arab yang berada dalam
radius dekat Pasar '45 masih bertahan sampai sekarang dan menjadi salah satu
tujuan wisata agama. Selain itu terdapat pula penduduk suku Jawa, suku Batak, suku Makassar dan suku Minangkabau Suku Aceh
Agama
Agama yang dianut adalah Kristen Protestan, Islam, Katolik, Hindu, Buddha dan agama Konghucu. Berdasarkan data
sensus penduduk tahun 2010[2], jumlah penduduk yang
beragama Kristen 62,10 persen, Katolik 5,02 persen, sedangkan Muslim 31,30
persen dan sisanya beragama lain. Meski begitu heterogennya, namun masyarakat
Manado sangat menghargai sikap hidup toleran, rukun, terbuka dan dinamis. Karenanya
kota Manado memiliki lingkungan sosial yang relatif kondusif dan dikenal
sebagai salah satu kota yang relatif aman di Indonesia. Sewaktu Indonesiasedang rawan-rawannya
disebabkan goncangan politik sekitar tahun 1999 dan berbagai kerusuhan melanda
kota-kota di Indonesia. Kota Manado dapat dikatakan relatif aman. Hal itu
tercermin dari semboyan masyarakat Manado yaitu Torang samua basudara yang
artinya "Kita semua bersaudara".
Bahasa
Bahasa digunakan sebagai bahasa sehari-hari di Manado
dan wilayah sekitarnya disebut bahasa Melayu Manado (Bahasa Manado). Bahasa Manado
menyerupai bahasa Indonesia tetapi dengan logat yang khas. Beberapa kata dalam dialek Manado
berasal dari bahasa Belanda, bahasa Portugis dan bahasa asing lainnya.
Budaya dan Gaya Hidup
Musik tradisional dari Kota Manado dan sekitarnya
dikenal dengan nama musik Kolintang. Alat musik Kolintang
dibuat dari sejumlah kayu yang berbeda-beda panjangnya sehingga menghasilkan
nada-nada yang berbeda. Biasanya untuk memainkan sebuah lagu dibutuhkan
sejumlah alat musik kolintang untuk menghasilkan kombinasi suara yang bagus.
Secara umum kehidupan di Kota Manado sama dengan
kota-kota besar lainnya di Indonesia. Pusat kota terdapat di
Jalan Sam Ratulangi yang banyak dibangun pusat-pusat pembelanjaan yang terletak
di sepanjang jalur utara-selatan yang juga dikenal dengan tempat yang memiliki
restoran-restoran terkenal di Manado. Akhir-akhir ini Manado terkenal dengan
makin menjamurnya mal-mal dan restoran-restoran yang dibangun di sepanjang
pantai yang memanfaatkan pemandangannya yang indah di saat menjelangnya matahari terbenam.
Kawanua
Masyarakat Manado juga disebut dengan istilah
"warga Kawanua". Walaupun secara khusus Kawanua diartikan
kepada suku Minahasa, tetapi secara umum penduduk Manado dapat disebut juga sebagai
warga Kawanua. Dalam bahasa
daerah Minahasa, "Kawanua" sering diartikan sebagai penduduk negeri atau
"wanua-wanua" yang bersatu atau "Mina-Esa" (Orang
Minahasa). Kata "Kawanua" diyakini berasal dari kata "Wanua". Kata "Wanua"
dalam bahasa Melayu Tua (Proto Melayu), diartikan sebagai wilayah pemukiman.
Sementara dalam bahasa Minahasa, kata "Wanua" diartikan sebagai
negeri atau desa.
Pariwisata
Sebagai kota terbesar di wilayah ini, Manado merupakan
tempat pariwisata yang penting bagi pengunjung. Ekowisata merupakan atraksi
terbesar Manado. Selam Scuba dan snorkelling di pulau Bunaken juga merupakan
atraksi populer. Tempat lain yang menarik adalah Danau Tondano,Gunung Lokon, Gunung Klabat dan Gunung Mahawu.
Dalam kurun waktu dua dekade terakhir, kegiatan
pariwisata dengan pesat tumbuh menjadi salah satu andalan perekonomian kota.
Primadona pariwisata kota Manado bahkan Provinsi Sulawesi Utara adalah Taman
Nasional Bunaken yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut
terindah di dunia. Taman Laut Bunaken adalah salah satu dari sejumlah kawasan
konservasi alam atau taman nasional di Indonesia. Taman Laut Bunaken
terkenal oleh formasi terumbu karangnya yang luas dan indah sehingga sering
dijadikan lokasi penyelaman oleh turis-turis mancanegara. Pulau Bunaken adalah
salah satu dari 5 pulau yang tersebar beberapa kilometer dari pesisir pantai
Kota Manado. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan
dapat ditempuh dalam sekitar setengah sampai 2 jam, menyebabkan Taman Nasional
ini mudah dikunjungi.
Objek wisata lain yang menonjol di kota Manado
adalah Kelenteng Ban Hin
Kiong di kawasan Pusat Kota yang dibangun pada awal abad ke-19dan diperbaiki pada
tahun 1970. Klenteng ini terletak
di Jalan Panjaitan. Klenteng ini terdiri dari bangunan yang dihiasi dengan
ukiran-ukiran nagadan tongkat kayu berapi. Saat yang paling baik untuk mengunjungi klenteng
ini yaitu pada saat Tahun Baru Imlek, saat dipertunjukkannya
tarian tradisional Tionghoa. Juga pada saat kedatangan parade tradisional
Tionghoa, Tai Pei Kong yang berasal dari abad ke-14. Peristiwa tersebut
merupakan festival "Taoist" tahunan terbesar yang diadakan di Asia Tenggara, sehingga menarik
pelancong dari negara lain. Lokasi wisata lainnya juga adalah Museum Negeri
Sulawesi Utara dan Monumen (Tugu Peringatan) Perang Dunia Kedua.
Sebuah monumen yang diresmikan pada akhir tahun 2007
dan menjadi ikon baru kota Manado adalah Monumen Yesus Memberkati. Bangunan ini didirikan di atas bukit di perumahan
Citraland Manado dan memiliki ketinggian 50 meter di atas permukaan tanah.
Bangunan yang diprakarsai oleh Ir. Ciputra ini merupakan monumen Yesus Kristus
yang tertinggi di Asia dan ke dua di dunia setelah Christ the Redeemer.
Selain memiliki objek-objek wisata yang menarik, salah
satu keunggulan pariwisata kota Manado adalah letaknya yang strategis ke
objek-objek wisata di hinterland, khususnya di Minahasa yang dapat dijangkau
dalam waktu 1 s/d 3 jam dari kota Manado. Objek-objek wisata tersebut antara
lain, Vulcano Area di Tomohon, Desa Agriwisata Rurukan-Tomohon, Panorama pegunungan
dan Danau Tondano, Batu Pinabetengan dan Taman Purbakala Waruga Sawangan Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara.
Karena potensi wisata yang besar tersebut maka
industri pariwisata di kota Manado telah semakin tumbuh dan berkembang yang
antara lain ditandai dengan cukup banyaknya hotel dan sarana pendukung lainnya.
Sampai tahun akhir tahun 2001, terdapat 67 buah hotel/penginapan, 15 buah biro perjalanan,
223 buah restoran dan rumah makan dari berbagai kelas.
Oleh karenanya meskipun cukup terpengaruh oleh krisis
ekonomi dan situasi nasional yang kurang kondusif, tetapi pariwisata di kota
Manado tetap berlangsung. Pada tahun 1998 kunjungan wisatawan mancanegara
adalah 34.509 orang, menjadi 11.538 orang pada tahun 2000 dan agak meningkat
pada tahun 2001 menjadi 12.301 orang. Sedangkan wisatawan Nusantara pada tahun
1998 berjumlah 432.993 orang, kemudian turun menjadi 279.014 orang pada tahun
2000 dan terakhir pada tahun 2001 agak meningkat menjadi 291.037 orang.
Manado Kota Pariwisata Dunia 2010
Untuk meningkatkan potensi pariwisata Manado, Jimmy Rimba Rogi sebagai Walikota
periode 2005 - 2010, mencanangkan Manado sebagai Kota Pariwisata Dunia 2010,
pencanangan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan potensi pariwisata di Kota
Manado sehingga dapat diperhitungkan sebagai tujuan wisata dunia kelak.
Beberapa kebijakannya yang paling dikenal adalah dengan melakukan relokasi
Pedagang Kaki Lima (PKL) yang telah lama berdagang di Taman Kesatuan Bangsa
atau dulunya disebut Pasar ‘45 dan mengembalikan fungsi trotoar sebagai tempat
pejalan kaki bukan sebagai tempat berjualan PKL. Upaya yang dilakukannya sangat
berkontribusi dalam hal diraihnya kembali penghargaan Adipura untuk kota Manado
pada tahun 2007.
Pusat Perbelanjaan dan Hiburan
Pusat perbelanjaan di Kota Manado mulanya
terkonsentrasi di seputar Taman Kesatuan Bangsa (TKB)atau Pasar‘45. Seiring
dengan pertumbuhan ekonomi kota Manado, dalam kurun waktu beberapa tahun
belakangan ini, industri properti dan retail di Manado berkembang cukup pesat.
Bermula dari proyek reklamasi pantai yang dilakukan selama 10 tahun lebih,
dibangun setelah jalan tepi pantai atau boulevard diresmikan
tahun 1993 dan dinamai Jalan Piere Tendean atau yang lebih dikenal dengan
Manado Boulevard.
Setelah reklamasi pantai selesai dibangulah proyek
raksasa dengan dibukanya pusat-pusat perbelanjaan modern baru
yaitu Mega Mall Manado, Manado Town Square, Blue Banter City Walk, IT Center Manado, Bahu Mall, Lion Plaza, Kawanua City Walk, Star Square Manado dan Mega Trade Center. Di sepanjang jalan ini
pun terdapat beberapa hotel berbintang, restoran dan cafe yang
menjajakan beraneka ragam makanan dan buka hingga larut malam. Pusat
cinderamata khas manado dapat ditemukan di Jalan B.W. Lapian. Terdapat beberapa
toko suvenir yang menjual makanan, busana, kerajinan tangan khas
Manado/Sulawesi Utara.
Makanan khas
Makanan khas dari Kota Manado antara lain, Tinutuan yang terdiri dari
berbagai macam sayuran. Tinutuan bukanlah bubur, sebagaimana selama ini orang
mengatakannya sebagai bubur Manado. Selain Tinutuan, terdapat Cakalang Fufu
yaitu ikan cakalang yang diasapi, ikan roa, Paniki (masakan dari kelelawar) dan RW (er-we) yaitu
masakan dari daging anjing, babi Putar (1 ekor babi dibakar dengan cara diputar di atas bara api),
biasanya dihidangkan di pesta-pesta, Babi Isi Bulu (terbuat dari daging babi
yang diramu dengan bumbu-bumbu khas manado dan dibakar di dalam bambu).
Terdapat juga minuman khas dari daerah Manado dan sekitarnya yaitu
"saguer" yaitu sejenis arak atau tuak yang berasal dari pohon enau.
Saguer ini memiliki kandungan alkohol, Cap Tikus (minuman
beralkohol tinggi dari proses fermentasi).
Makanan khas kota Manado lainnya yang juga cukup
terkenal adalah nasi kuning yang cita rasa dan penyajiannya berbeda dengan nasi
kuning di daerah lain. Selain itu ada juga masakan kepala ikan kakap bakar.
Dabu-dabu adalah sambal khas Manado yang sangat populer, dibuat dari campuran
potongan cabe merah, cabe rawit, irisan bawang merah dan tomat segar yang
dipotong dadu dan terakhir diberi campuran kecap.
Untuk makanan ringan, Manado juga punya makanan khas
sejenis asinan yaitu gohu dan es kacang. Gohu dibuat dari irisan buah pepaya
yang direndam dalam larutan asam cuka, gula, garam, jahe dan cabe. Selain itu
ada juga kue seperti lalampa (lemper berisi ikan cakalang yang diisi dalam segumpalan
beras ketan dan dibungkus dengan daun pisang lalu dibakar), panada (sejenis
roti goreng berisi ikan cakalang dan dibentuk dengan pilinan pada bagian
tepinya), apang,klapertart manado, kolombeng, panekuk,dodol manado,kueku,
pinende, biapong (babi, wijen, "unti" (terbuat dari kelapa)). Dan
yang tidak ketinggalan adalah, nasi jaha yang terbuat dari beras ketan yang
dicampur dengan santan, jahe, bawang merah dan lain-lain, kemudian dimasukan ke
dalam bambu lalu dibakar.
Ekonomi
Sebagian besar penduduk Kota Manado bekerja sebagai
pegawai negeri sipil (PNS), guru atau pegawai swasta (41,44%), sebagai
wiraswasta (20,57%), pedagang (12,85%), petani/peternak/nelayan (9,17%), buruh
(8,96%). Sisanya bergerak di sektor jasa dan lain-lain (7%).
Angka Produk Domestik
Regional Bruto (PRDB) Kota Manado tahun 2000 adalah Rp. 2,14 trilyun. Angka
tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan angka tahun 1994 yang berjumlah Rp. 703,87 milyar.
Tingkat pertumbuhan yang dicapai dalam kurun waktu tersebut rata-rata 6,11% per
tahun. Pada tahun 1994 sampai 1996 angka pertumbuhan berada di atas 10%
kemudian melambat menjadi 2,92% pada tahun 1997 dan 0,32% ditahun 1998 dimana merupakan angka terendah.
Pada tahun 1999, pertumbuhan meningkat
lagi menjadi 1,60% dan ditahun 2000 menjadi 5,62%.
Sejak munculnya krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997,
perekonomian kota Manado sangat terpengaruh. Hal ini dapat dilihat dari
meningkatnya angka pengangguran yang diperkirakan pada tahun 2000 masih sebesar
20.465 orang atau 13.67% dan meningkatnya jumlah keluarga miskin sebanyak
19.754 Kepala Keluarga (KK) atau 24,60%. Pada tahun 1999, terdapat indikasi adanya pemulihan
perekonomian kota yang signifikan. Pendapatan perkapita kota Manado naik dari
Rp 1.753.482 pada tahun 1994 menjadi Rp 4.452.672 pada tahun 2000.
Perekonomian kota Manado khususnya terdiri dari sektor
perdagangan, perhotelan dan restoran, sektor pengangkutan dan komunikasi serta
sektor jasa. Pada tahun 1996 peran ketiga sektor utama ini dalam pembentukan PDRB adalah sejumlah
68,74%. Dalam kurun waktu 5 tahun, peran ketiga sektor ini cenderung semakin
dominan yang dilihat dari kontribusinya pada tahun 2000 yang meningkat menjadi
74,68%. Laju inflasi kota Manado selama kurun waktu dua tahun terakhir (2000-2001) sangat
berfluktuatif. Pada tahun 2000 sempat mengalami deflasi sebanyak lima kali
yaitu masing-masing pada bulan Januari sebesar –0,25%, April –0,08%, Mei
-0,13%, Agustus -0,85% dan Desember -0,16%. Sedangkan inflasi tertinggi terjadi
pada bulan pada bulan Oktober yaitu sebesar 4,05%. Sehingga secara kumulatif
inflasi yang terjadi di Manado sebesar 11,41%. Pada tahun 2001 terjadi deflasi
sebanyak 3 kali, yaitu pada bulan Februari sebesar –0,56%, Agustus -0,23% dan
Desember sebesar –0,26%. Sedangkan inflasi tertinggi pada tahun 2001 terjadi
pada bulan Juli yaitu sebesar 2.83% dimana secara kumulatif inflasi pada tahun
2001 mencapai 13,30%.
Transportasi
Udara
Kota Manado melalui bandar udaranya, Sam Ratulangi terhubung dengan beberapa kota besar
lain di Indonesia seperti, Jakarta, Surabaya,Makassar dan Balikpapan. Selain itu bandara ini
juga mempunyai penerbangan langsung dari dan ke luar negeri yaitu Singapura, Manila, Kuala Lumpur (mulai 12
September 2008) dan Davao, Filipina. Bandara yang mengalami renovasi pada tahun 2001 ini merupakan salah satu
dari 11 pintu gerbang utama pariwisata di Indonesia. Dengan panjang landas pacu
sepanjang 2650 m dan lebar 45 m, bandara ini sanggup untuk didarati pesawat
berbadan lebar sejenis Boeing 777-200 dan Airbus A330. Terminal penumpangnya
memiliki fasilitas penunjang berstandar internasional dan dilengkapi dengan
empat buah garbarata.
Laut
Dermaga di Manado umumnya dilayani oleh kapal-kapal
berukuran kecil. Hal ini dikarenakan lokasi perairan Manado yang berdekatan
dengan lokasi Taman Laut Bunaken yang dilindungi
dan juga perairan yang cukup dangkal. Pada umumnya, kapal-kapal yang bersandar
di pelabuhan Manado adalah kapal dengan tujuan Kepulauan Sangir dan Kepulauan
Talaud. Speed boat dari dan menuju Bunaken umumnya berlabuh
di dermaga ini. Kapal-kapal berukuran besar milik PT. Pelni berlabuh di kota Bitung, berjarak kurang lebih 40 km sebelah
timur Manado.
Darat
Sistem transportasi darat Kota Manado dilayani oleh
minibus angkutan kota yang biasa disebut mikrolet, taksi argo dan Bus
DAMRI, tapi bus yang beroprasi di dalam kota sudah tidak ada. Sebagian besar
rute dalam kota dilayani oleh mikrolet yang menghubungkan beberapa terminal bus
dalam maupun luar kota dengan pusat kota Manado. Mikrolet umumnya beroperasi
hingga pukul 22.00 wita (hari kerja) atau pukul 00.00 wita (akhir pekan).
menaiki transportasi umumnya mikrolet di manado ada yang unik, umumnya Mikrolet
di manado sudah di modifikasi dan dilengkapi dengan sound system,
ada juga yang menaruh layar LCD bahkan ada juga yang memodifikasi bagian
interior mobil, ini untuk memenuhi tingkat kenyamanan penumpang dan taksi
umumnya melayani rute-rute ke luar kota sedangkan Bus DAMRI melayani rute
Bandara - Terminal Bus luar kota di Malalayang.
Media
Media Online
Media online yang tersedia antara
lain:
Media Cetak
Saat ini di Manado terdapat beberapa surat kabar
lokal, antara lain: harian pagi Media Sulut, Manado Post, POSKO, Radar Manado, Koran Manado, Harian Komentar, Tribun Manado, dan lain-lain.
Radio
Beberapa tahun belakangan jaringan radio nasional juga
membuka cabang di kota manado seperti Delta FM, Trijaya FM, Smart FM dan
Cosmofemale FM, disamping radio-radio lokal yang sudah lama melakukan penyiaran
di kota ini, seperti Radio Manado Memora, Montini, ROM2 dan KDFM. Selain itu
terdapat juga radio komunitas yang dikelola oleh berbagai masyarakat di daerah
pinggiran Manado.
Televisi
Selain TVRI Stasiun Manado, terdapat beberapa TV
swasta lokal yang beroperasi di Manado yaitu TV5 Filipina, Pacific TV dan GOTN (Gospel
Overseas Television Network). Dua TV lokal lainnya, yaitu Televisi Manado dan Bunaken TV sempat mengudara untuk
beberapa waktu, akan tetapi karena kesulitan memperoleh pembiayaan melalui
iklan, kedua TV tersebut tidak lagi mengudara. Semua TV swasta nasional
memiliki menara relay di Manado, yaitu RCTI, SCTV, Metro TV, Indosiar, Trans TV, Trans 7, TV One, Global TV, TPI dan Anteve. Saat ini pelanggan TV kabel sudah mulai
berkembang di Manado karena banyak warga Manado yang tertarik terhadap
siaran-siaran film dan hiburan luar negeri, seperti HBO, Star Movies, FOX dan lain-lain
Sumber: wikipedia
Nama anggota kelompok:
·
Muhamad Iqbal
·
M.Destaraka.F
·
Wahyu Ricci Ricardo
·
Afif Wahyu
·
Robby Irham
·
Yogi Hermawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar